JAKARTA — Menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060, Indonesia menghadapi tantangan besar yang sering disebut sebagai “trilema transisi energi”. Tantangan ini menuntut keseimbangan yang presisi antara menjaga pertumbuhan ekonomi, memastikan ketahanan energi nasional, dan melakukan dekarbonisasi secara bertahap.
Ketua Asosiasi Pembangkit Listrik Swasta Indonesia (APLSI), Eka Satria, menegaskan bahwa transisi energi bukanlah sekadar perpindahan dari satu sumber energi ke sumber lainnya.
“Transisi ini harus berpijak pada empat pilar fundamental: ketahanan pasokan, keterjangkauan harga bagi industri, keberlanjutan lingkungan, dan bankabilitas bagi investor.”
Eka Satria, Ketua APLSI
APLSI memandang bahwa transisi energi harus diubah narasinya dari sekadar “beban lingkungan” menjadi “peluang ekonomi”. Dengan potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang melimpah, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk mendorong industrialisasi, menciptakan lapangan kerja hijau, dan memperkuat manufaktur lokal.
Namun, keberhasilan ini memerlukan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan perbankan harus bersinergi untuk menciptakan ekosistem yang kondusif. Hal ini mencakup kepastian regulasi, insentif yang tepat sasaran, serta pengembangan talenta lokal yang siap mengelola infrastruktur energi masa depan.
APLSI berkomitmen untuk terus mendukung pemerintah dalam menyusun peta jalan transisi yang realistis, praktis, dan memberikan manfaat maksimal bagi kemakmuran rakyat Indonesia.
Sumber: Siaran CNN Prime News, Selasa 30 Juni 2026, program “Roadmap Energi Hijau Indonesia: Siapkah Bertransformasi?”








































